Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Bersama mari perbaiki generasi bangsa

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Dari hati bangun semangat untuk maju

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Dengan semangat saling berbagi manfaat besar kan kita raih

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

percaya diri berjalan membawa amana, kejujuran di hati

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, July 21, 2013

DO'A DOA PENDEK UNTUK ANAK

DO’A SEBELUM MAKAN
اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَارَزَقْتَنَا وَقِنَاعَذَابَالنَّارِ.
Artinya :“Wahai Tuhanku, berkahilah apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

DO’A SESUDAH MAKAN
اَلْحَمْدُالِلّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَاوَسَقَانَاوَجَعَلَنَامُسْلِمِيْنَ.
Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan telah menjadikan kami dari golongan Muslim (orang-orang yang berserah diri).”

DO'A SEBELUM  TIDUR
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ
Artinya: "Dengan menyebut nama-Mu, Ya Allah, aku hidup dan dengan menyebut Nama-Mu aku mati."(Hadis Riwayat  Muslim)

DO'A KETIKA BANGUN TIDUR :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ 
Artinya : "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah kematian kami dan hanya kepada-Nya (kami) dikembalikan."

DO’A KEDUA ORANG TUA
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذنوبي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
 Artinya: “Ya Alloh Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

DOA SEBELUM BELAJAR
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَ بِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَ رَسُوْلاً، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا وَ حَكَمًا
رَبِّى زِدْنِيْ عِلْمًا نافعا  وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا
Artinya: "Aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan agama Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai nabi dan utusan Allah. dan aku rela Al-Quran menjadi panduan dan hukum. Ya Allah, tambahkanlah kepadaku  ilmu yang bermanfaat,. dan berikanlah aku karunia untuk memahaminya."

DOA SESUDAH BELAJAR

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّـبَاعَه ُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Artinya: Ya Alloh Tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehinggga kami dapat mengikutinya Dan tunjukkanlah kepada kami kejelekan sehingga kami dapat menjauhinya
DOA MASUK KAMAR KECIL(TOILET)

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.

DOA KELUAR DARI TOILET

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan yang telah memaafkanku."

DOA SAAT BERCERMIN

اَللَّهُـمَّ كَمَا حَسَّـنْتَ خَلْقِـيْ فَحَسِّـنْ خُلُقِـيْ
Artinya : “Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah tubuhku maka perindahlah pula akhlakku.”

DOA KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari api neraka.” (QS. al-Baqarah: 201)

DO’A KELUAR RUMAH

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، َلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْم
Artinya : Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali atas izin Allah yang maha mulia lagi maha agung


بِسْمِ الله وَلَجْنَا ، وَ بِسْمِ الله خَرَجْنَا وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَلْنَا
Artinya : Dengan nama Allah kami masuk rumah, dengan nama Allah aku keluar rumah, serta kepada-Nya aku berserah diri( HR. Abu Daud)

DOA MASUK MASJID
 




0ح\


DOA KELUAR DARI MASJID
 



 

 


DOA BERBUKA PUASA

 

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَ بِكَ اَمَنْتُ وَ عَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Artinya : Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka, Mahabesar Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.

DOA NIAT PUASA

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ الشـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ
Artinya: "Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini karena Allah Taala"


DO’A NAIK KENDARAAN
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
Artinya: “Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat)”.
LAFADZ BASMALAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Artinya:“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

LAFADZ HAMDALAH
اَلحَمْدُ لله رَبّ اْلعَالَمِين
Artinya:”Segala puji bagi  Allah Tuhan semesta alam”

LAFADZ TASBIH
سُبْحَانَ اللهِ
Artinya: “ Maha suci Allah
LAFADZ TAHLIL
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah
LAFADZ TAKBIR
اللهُ أَكْبَرُ
Artinya: Allah maha besar
LAFADZ ISTIGHFAR
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم
Artinya: Saya mohon ampun kepada Alloh yang Maha Agung
LAFADZ HAUQOLAH
لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْم
Artinya: Tidak ada daya dan upaya kecuali hanya Allah yang Maha mulia dan Maha Agung

Saturday, June 8, 2013

Jeremy Teti Ternyata Punya Talenta Penyanyi

Bulan lalu kita dikejutkan dengan aksi kocak Arya Wiguna - DEMI TUHAN di Youtube, sekarang ada lagi objek yang menjadi sasaran Pengguna Akun Youtube dengan akun @EkaGustiwana, konpusor cerdas dan sangat kreatif ini,

sang pembawa acara berita malam paling senior berita di SCTV yaitu Jeremy Teti yang berjudul Jeremy Teti Nyanyi! - BBM CAMPURAN.

Gaya dan has pembawaan berita Jeremy Teti tidak disangka seperti penyayi sungguhan,

Tuesday, May 7, 2013

Konsep Aurat dan Larangan Berwudhu Telanjang Bulat

Bagi sebagian orang, wudhu merupakan salah satu laku ibadah yang telah merasuk menjadi rutinitas. Setiap kali bersentuhan dengan air, seketika itu pula ia berwudhu. Ini adalah suatu kebaikan, karena berusaha mengkondisikan diri dalam keadaan suci.
Namun demikian perlu diperhatikan bahwasannya berwudhu haruslah dalam keadaan aurat tertutup. Minimal aurat depan (qubul) dan belakang (dubur). Walaupun sebenarnya menutup aurat bukanlah termasuk syarat sah wudhu. Akan tetapi, ini berhubungan dengan tata cara dan hukum menutup aurat ketika sendirian (khalwat) yang batasannya berbeda dengan aurat ketika shalat dan ketika bersosialisasi di depan umum.
Menurut Az-Zarkasyi sebagaimana tercantum dalam Nihayatul Muhtaj, bahwa aurat yang wajib ditutup ketika sendirian (khalwat) adalah dua kemaluan saja bagi laki-laki (qubul dan dubur), dan antara pusar dan lutut bagi perempuan.
قال الزركشى: والعورة التى يجب سترها فى الخلوة السوأتان فقط من الرجل ومابين السرة والركبة من المرأة
Azzarkasyi berkata bahwa aurat yang wajib ditutup ketika khalwat adalah dua kemaluan saja bagi laki-laki (qubul dan dubur), dan antara pusar dan lutut bagi perempuan.
Bahwasannya  ada dua macam aurat khusus. Pertama aurat ketika sendirian (khalwat) dan kedua aurat ketika di hadapan orang yang boleh memandang kepadanya seperti istri dan budak perempuan (sesuai perkembangan zaman, konsep perbudakan kini sudah tidak ada lagi). Keduanya memiliki tata cara yang berbeda seperti diterangkan dalam kitab Fathul Muin bahwa:
وجاز تكشف له اى للغسل فى خلوة او بحضرة من يجوز نظره الى عورته كزوجة او أمة والستر افضل وحرم ان كان ثم من يحرم نظره اليها كماحرم فى الخلوة بلاحاجة وحل فيها لأدنى عرض كما يأتى
Boleh membuka aurat (telanjang bulat) ketika mandi karena khalwat (sendirian), atau (boleh juga membuka aurat) di depan orang yang diperbolehkan memandang auratnya seperti istri atau budak perempuannya. Namun menutup aurat lebih afdhal. Dan haram membuka aurat jika di sana ada orang yang terlarang (tidak diperbolehkan) melihatmya. Seperti halnya diharamkan membuka aurat ketika sendirian tanpa ada keperluan apa-apa.
Dari keterangan di atas dapat difahami bahwa seseorang hanya diperbolehkan membuka aurat atau bertelanjang bulat ketika mandi sendirian atau ketika hanya berhadapan hadapan dengan istri. Karena mandi harus meratakan air ke seluruh tubuh, dan ini tidak bisa tercapai tanpa harus membuka semua penutupnya. Maka dibolehkan bertelanjang bulat ketika mandi.
Ini berbeda dengan kasus wudhu, karena keperluan wudhu dalam meratakan air tidak seperti mandi, maka berwudhu harus dengan menutup auratnya, minimal aurat depan (qubul) dan belakang (dubur). Dengan kata lain, jika mandi memang perlu bertalanjang, sedang wudhu tidak perlu bertelanjang. Maka dilarang berwudhu dengan bertelanjang bulat tanpa menutup aurat walaupun sendirian tanpa sesuatu keperluan apapun.
Oleh Karena itu, ketika seseorang selesai mandi dan ingin mengakhiri mandinya dengan berwudhu, sebaiknya terlebih dahulu menutup auratnya. Walaupun hanya dengan celana dalam ataupun handuk yang melingkar di badan. Wallahu a’lam. Ulil Hadrawy

Sumber: http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,44276-lang,id-c,syariah-t,Konsep+Aurat+dan+Larangan+Berwudhu+Telanjang+Bulat-.phpx

Monday, May 6, 2013

Ciri-ciri Seorang Wanita yang Sudah Tidak Perawan Lagi


Sebenarnya mudah sekali kita menebak bahwa wanita masih perawan atau tidak dengan melihat ciri-cirinya sebagai berikut :
Ciri Cewek Sudah Tidak Perawan Ciri ciri Seorang Wanita yang Sudah Tidak Perawan Lagi
1. DILIHAT DARI CARANYA BERJALAN
Saat Anda berjumpa dengan wanita, perhatikan:
Jika wanita tersebut berjalan sambil menggendong anaknya, berarti wanita itu SUDAH TIDAK PERAWAN!
2. SAAT MENYATAKAN CINTA
Nah jika Anda baru saja ngomong cinta kepada seorang wanita, tunggu beberapa hari dan lihat reaksinya,
Jika ternyata ada seseorang datang ke rumah Anda dan mengacungkan golok, terus teriak marah2 sambil berkata:
“Kutu Kampret Berani ya Loe nembak bini gue”!
Nah itu artinya cewek tersebut sudah punya suami, 100% akurat dan bisa di pastikan kalau wanita itu sudah tidak perawan lagi.
*Ingat, jauhi wanita seperti itu kalau Anda tidak mau babak belur dipukulin sama suaminya.
3. DILIHAT DARI BENTUK TUBUHNYA
Jika perutnya terlihat mendadak buncit dalam beberapa bulan, jelas sekali wahai saudara, kalau wanita itu sudah TIDAK PERAWAN lagi.
5. DILIHAT DARI LEHERNYA
Kalau yang satu ini, kita harus teliti memperhatikan leher wanita sebelum dijadikan pacar,siapa tau wanita itu sudah tidak perawan lagi.
Jika terdapat tonjolan pada leher bagian depan wanita itu. Berarti wanita itu tidak perawan karena bisa dipastikan dia bukan wanita, tapi Homreng alias maho.
6. DILIHAT DARI DADANYA
Dada seorang wanita sangat menentukan kalau dia masih perawan atau tidak. Dan dibutuhkan nyali besar untuk melakukannya.
Jika dada wanita kita pegang terasa agak keras dan berbulu. Itu tandanya dia bukan WANITA, melainkan LAKI-LAKI.
7. DILIHAT DARI NAMANYA
Kalau ada seorang wanita yang bernama Gadis, maka cepat nikahi wanita itu. Rugi banget kalau sampe diduluin orang, kan enak tuh kalau kita nanti sudah tua, istri kita nanti disebut Gadis. Keren kan…
Yang ini sebenarnya tidak ada kaitannya sama keperawanan.
8. DILIHAT DARI CARA DIA MEMBACA
Karena begitu seriusnya membaca postingan tentang ciri-ciri wanita yang sudah tidak perawan lagi, dia baru sadar kalau nomor 4 ternyata tidak ada.
9. DILIHAT DARI CARA DIA KALAU SUDAH MEMBACA
Sadar kalau nomor 4 tidak ada, dia langsung kembali lihat keatas dan berkata:
“Oh iya nomor 4 tidak ada…”
Abis itu nyengir deh…

*Sekedar Joke

5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia


Banyak tradisi dalam dunia cinta dan Jodoh salah satunya yang terkanal adalah tradisi Valentine yang diperingati setiap tanggal 14 Februari. Namun selain valentine ternyata masih ada beberapa tradisi unik dalam mencari jodoh yang ada di dunia ini nah kamu mau tahu tradisi unik seperti apa dalam mencari jodoh yang ada di berbagai negara di dunia simak 5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia berikut ini.
 
1. Memakan apel dari ketiak
028 5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia
Memakan apel dari ketiak merupakan tradisi di negara Austria dalam mencari jodoh caranya adalah dengan memberikan apel yang telah dibelah lalu apel yang akan diberikan ke pria tadi harus dikepit di ketiak wanita yang melakukan beberapa tarian ritual sampai berkeringan nah apel yang sudah basah dengan keringat tadi baru lah diberikan ke pria yang mau dijodhkan dengan pria jika pria itu mau memakan apel tadi berati pria tadi menerima perjodohan unikya.

2. Pondok cinta
2212 5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia
Pondok cinta merupakan tradisi mencari Jodoh di negara Kamboja orang tua yang memiliki putri yang sudah remaja akan membuatkan sebuah rumah kecil yang disebut sebagai pondok cinta di dalam pondok ini pria belum menikah saiapa saja boleh bercinta dengan gadis yang ada didalam pondok cinta terkadang dalam satu malam bisa ada lebih dari 3 orang yang berhubungan seks dengan wanita yang ada di dalam pondok itu nah jika sang wanita menyukai salah seorang dari pria yang datang ke pondok itu maka mereka berdua akan menikah.

3. Kikir gigi
2310 5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia
Tradisi kikir gigi ini ada di Bali setiap remaja yang akan dewasa diwajibkan melakukan ritual ini gigi mereka harus dikikir oleh pendeta Hindu. Tanpa menggunakan obat obatan apapun pendeta akan mengukir gigi para pemuda yang akan dewasa tujuan ritual ini adalah untuk mengusir roh jahat membawa ketamakan, syahwat, amarah, kecemburuan, dan keadaan tidak sadar. Setelahnya, mereka menjadi orang dewasa siap menikah.


4. Tidur bersama dipisahkan papan
245 5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia
Praktik pacaran umum barat laut negara Eropa dan Amerika kolonial yakni pasangan remaja tidur bersama seranjang. Namun ini dilakukan dalam pengawasan orang tua sang perempuan. Meski seranjang keduanya terbungkus selimut berbeda, terkadang sebuah papan berukuran sedang. Keintiman boleh terjadi namun bukan hubungan seksual. Semacam menyentuh atau bercengkrama.

5. Mengunjungi gadis
258 5 Tradisi Unik Untuk Mencari Jodoh di Dunia
Ada tradisi cukup unik di China dalam mencari jodoh para wanita di China aken berkerumun dengan membuat lingkaran sambil memutari api ungun. Lalu segerombol pria berjaket merah akan mendatangi para wanita.

Nah proses saling menyukai mulai terjadi disini jika siwanita menyukai salah satu pria yang datang tadi maka wanita akan memberiksan sebuah barang kepada si pria lalau pria akan mengajak duduk wanita tadi dengan memberikan jaket merah miliknya disinilah kata cinta terucap dari pria untuk melamar wanita.

Nah itulah beberapa tradisi unik dalam mencari jodoh yang ada diberbagai dunia.
 
 

Thursday, April 25, 2013

Hukum Membid'ahkan atau mengkafirkan orang laing

Bahaya Takfir

kafirs3Musibah besar yang dapat memecah belah persatuan Islam dari dalam, yang akhir-akhir ini sering dilontarkan oleh kelompok radikal wahabi  yang memproklamirkan diri sebagai pengikut Salafi dan yang sefaham dengannya, seperti MTA, LDII dan lain-lain adalah ucapan seperti “ahli bid’ah, musyrik atau kafir kepada muslim lain hanya karena keyakinan dan manhaj (metodelogi pemikiran) yang berbeda.
Kita dapat saksikan nyata, perilaku sebagian dari mereka yang melakukan hujatan dan serangan kejam kepada mayoritas ulama sunni dengan mengklaim bahwa pelaku tahlilan, tawassul, tabarrukan dan lain-lain semua telah kufur, syirik, sesat serta telah keluar dari agama Islam.

Lagi-lagi karena faktor jahil dan salah kaprah memahami sesuatu yang menjadi sebab musabbab seorang muslim keluar dari agama, mereka dengan ekstrim dan tanpa beban menghujat muslim lain yang tidak sejalan dengan ideologi mereka dengan kata-kata kufur atau syirik. Konsekwensi dari ucapan tersebut, pertanyaan besar mengemuka, berapa jumlah muslim di muka bumi ini yang terhapus dari daftar umat Islam menurut mereka?
Fenomena seperti ini, memang biasa terjadi di daerah-daerah tertentu yang multi aliran dan multi pola pikir pemahaman agama yang tidak seragam. Namun karena faktor husnuzhon (berbaik sangka), kami berkomentar, mungkin maksud mereka baik, bertujuan amar ma’ruf dan nahi munkar, akan tetapi bagaimanapun tujuan baik tersebut dalam pelaksanaannya harus dibarengi dengan hikmah dan mauizhah hasanah. Dan apabila keadaan menuntut harus berdebat (mujaddalah), maka harus berdebat dengan baik, sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
Jika anda mengajak seseorang muslim untuk melaksanakan shalat, menjalankan kewajiban agama, menjauhi larangan, menyebar dakwah Islam, meramaikan masjid, membangun tempat-tempat pengajian atau hal-hal lain yang anda yakini benar, sementara yang anda ajak mempunvai keyakinan berbeda dengan anda, sedangkan hukum masalah tersebut masih diperselisihkan ulama, kemudian orang tersebut tidak mau mengikuti ajakan anda, lalu anda tuduh dia kufur lantaran hanya berbeda dengan pandangan anda, maka anda telah melakukan kesalahan besar dan melakukan sesuatu hal yang sangat dilarang oleh Allah.
Dengan dalih pemurnian agama atau tauhid dan mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah pun sering diteriakkan, namun slogan yang kelihatannya bagus di luar tersebut pada realitanya Selalu dibarengi dengan sikap lancang yakni mengklaim ketetapan hukum syariat yang sudah dicetuskan oleh para mujtahid dan para ulama terdahulu tidak sesuai dengan isi Al-Qur’an dan hadits. Menurut mereka juga, melegalkan qiyas (analogi hukum dalam Islam) dan ijma” (konsensus ulama) dalam jajaran dasar-dasar hukum Islam (ushul al-ahkam) adalah sesat dan batil, pengikut madzhab Asy’ariyyah kufur, pengamal tarekat sufi kufur dan kata-kata ekstrim lain.

Betapa mereka telah melakukan kesalahan besar dengan menuduh ulama-ulama Islam Ahlussunnah yang waktu dan umurnya dihabiskan untuk membela agama Allah dengan tuduhan keji seperti itu. Berapa jumlah ulama yang mereka anggap sesat dalam pandangan mereka? Lalu berapa pengamal tarekat sufi yang harus diusir dari ranah Islam? Berapa juta pengikut madzhab yang harus mereka singkirkan dari daftar orang-orang Islam? Naudzubillah.

Di tempat lain, saat sebagian dari saudara muslim yang kebetulan tidak mempunyai ilmu agama cukup telah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, seperti melakukan sesaji di tempat-tempat yang dikeramatkan, mengikuti sekatenan, ziarah makam dengan membawa beraneka ragam makanan, percaya dengan hal-hal yang berbau klenik dan lain-lain, lalu para penda’wah salafi pun juga dengan cepat-cepat dan tanpa beban sama sekali menuduh mereka syirik, kufur, sesat dan lain-lain. Dengan tanpa huznuzhon dan ta’wil sama sekali, mereka telah mengelilarkan orang-orang muslim tersebut dari daftar muslimin ke dalam daftar orang kafir. Hal ini, juga termasuk ekstrimisme dalam berda’wah. Rasulullah bersabda:
“Ketika seseorang berkata kepada saudaranya “wahai kafir”, maka ucapan (kufur) tersebut kembali pada salah satu di antara keduanya” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah) Imam Ahmad Masyhur al-Haddad berkata, “Telah terjadi ijma’ tentang tidak diperbolehkannya mengkafirkan ahli kiblat kecuali karena beri’tikad tidak adanya sang pencipta yang kuasa jalla wa’ ala,  atau syirik yang telah nyata yang tidak bisa dita’wil (pengalihan maksud) atau ingkar kenabian, atau ingkar syari’at yang diketahui dengan pasti {bi adh-dharurat), atau ingkar syariat mutawatir atau mujma’ ‘alaih (ijma1) yang pasti”
Imam as-Syaukani menjelasan, “Ketahuilah, sesungguhnya menghukumi seorang muslim dengan menganggap keluar dari agama Islam dan masuk agama kufur, tidak layak dilakukan oleh seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir kecuali dengan dalil yang lebih terang dari pada matahari siang”
Ibnu Taimiyyah, sebagaimana dalam Thariq al-Wushul karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, berkata, ‘Jika ucapan kufur diucapkan, maka tidak harus setiap pengucapnya dihukumi kufur karena (mungkin) dia tidak tahu atau (ucapannya) bisa dita’wil”
Pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab dalam ar-Rasail asy- Syakhshiyyah menolak segala tuduhan yang menyebutkan bahwa beliau mengatakan kufur kepada orang yang bertawassul, mengkufurkan al-Bushiri (penulis al-Burdah) dan mengkufurkan orang yang bersumpah atas nama selain Allah.
Ibnu Baz, Mufti Kerajaan Arab Saudi (ulama Wahhabi) melarang berda’wah dengan cara menghina sesama pendakwah. Begitu Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Ibnu Utsaimin), salah satu ulama Wahhabiyyah, sebagaimana diceritakan oleh Muhammad Thuyan, pernah berpesan kepada mahasiswa kuliah fakultas Syariat, Ushuluddin, Emu Arabi dan Sosial di Qashim untuk memuliakan ulama dan guru-guru serta melarang keras mengkufurkan para hakim dan para ulama. Tapi semua itu hanyalah omong kosong yang tidak diterapkan olehnya dan pengikut wahabiyah umumnya.
Dalam hal ekstrimisme takfir, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mempunyai karya bagus yang berkaitan dengan hal tersebut, yaitu at- Tahdzir min al-Mujazafah bi at-Takfir serta al-Ghuluw (makalah dialog Nasional ke-2 di Makkah Mukarramah). Kedua kitab tersebut layak dibaca bagi yang mengharapkan sesuatu yang haq.
(Sumber: Dikutip  dari buku Benteng Ahlussunnah karya Nur Hidayat Muhammad)

Semua Aneka Ragam Redaksi Sholawat itu Boleh

Dalam amaliah sehari-hari mayoritas kaum Muslimin, yang sangat mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW dengan penuh ta’zhim, telah dikenal sekian banyak redaksi shalawat kepada Nabi SAW, seperti Shalawat Munjiyat, Shalawat Nariyah, Shalawat Fatih, Shalawat Thibbul Qulub dan lain-lain. Kebanyakan redaksi shalawat-shalawat tersebut tidak disusun oleh Nabi sendiri, tapi disusun oleh para ulama dan auliya terkemuka yang tidak diragukan dalam keilmuan dan ketakwaannya.

Pertanyaan yang sering diajukan oleh kaum Wahhabi seperti Ibn Baz, al-Utsaimin, al-Albani, Mahrus Ali, dan lain-lain adalah: Bolehkah mengamalkan shalawat yang tidak disusun oleh Nabi SAW, bahkan tidak dikenal pada masa beliau?. Bahkan terakhir, tayangan Khazanah Trans 7 pada hari Jum’at 12 April 2013 menayangkan hal tersebut dengan membid’ahkan amaliah sholawat yang dikarang oleh ulama.
Sedangkan mengenai bentuk redaksinya, shalawat itu ada dua macam, yaitu Shalawat Ma’tsur dan Shalawat Ghoiru Ma’tsur. Shalawat Ma’tsur adalah shalawat yang dibuat oleh Rasululloh SAW sendirir, baik kalimat, cara membaca, waktu maupun fadhilahnya.
Adapun Shalawat yang masuk kategori Ghoiru Ma’tsur, adalah seperti shalawat yang disusun oleh Imam Al Ghazali, shalawat Quthbul Aqthab yang disusun oleh Sayid Abdullah bin Alawi Al-Hadad, Shalawat Nariyah, Shalawat Munjiyat, Shalawat Mukhathab dan lain – lain.
Mayoritas kaum “muslimin, berpandangan bahwa mengamalkan shalawat-shalawat yang disusun oleh para ulama dan auliya seperti Shalawat Munjiyat, Shalawat Nariyah, Shalawat al-Fatih, Shalawat Thibbul Qulub dan lain-lain adalah dibolehkan dan disunnahkan sesuai dengan paradigma umum yang mengakui adanya bid’ah hasanah dalam agama. Terdapat sekian banyak dalil -selain dalil-dalil bid’ah hasanah sebelumnya- yang menjadi dasar kebolehan membaca doa-doa dan shalawat-shalawat yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Di antara dalil- dalil tersebut akan kami sebutkan satu persatu di bawah.
1. Hadits Anas bin Malik RA.
hadits anas
“Anas bin Malik berkata: “Suatu ketika Rasulullah SAW  bertemu dengan laki-laki a’rabi (pedalaman) yang sedang berdoa dalam shalatnya dan berkata: “Wahai Tuhan yang tidak terlihat oleh mata, tidak dipengaruhi oleh keraguan, tidak dapat diterangjkan oleh para pembicara, tidak diubah oleh perjalanan waktu dan tidak oleh malapetaka; Tukan yang mengetahui timbangan gunung, takaran lautan, jumlah tetesan air luijan, jumlah daun-daun pepohonan, jumlah segala apa yang ada di bawah gelaapnya malam dan terangnya siang, satu langit dan satu bumi tidak menghalanginya ke langit dan bumi yang lain, lautan tidak dapat menyembunyikan dasarnya, gunung tidak dapat menyembunyikan isinya, jadikanlah umur terbaikku akhimya, amal terbaikku pamungkasnya dan hari terbaikku hari aku bertemu dengan-Mu.”
Setelah laki-laki a’rabi itu selesai berdoa, Nabi SAW memanggilnya dan memberinya hadiah berupa emas dan beliau berkata kepada laki-laki itu: “Aku memberimu emas itu karena pujianmu yang bagus kepada Allah ‘azza wa jalla”.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al- Ausath (9447) dengan sanad yang jayyid.
Hadits ini menunjukkan bolehnya berdoa dengan doa yang belum pernah diajarkan oleh Nabi Dalam hadits tersebut, Nabi tidak menegur si a’rabi yang berdoa dengan susunannya sendiri, juga tidak berkata kepadanya: “Mengapa kamu berdoa dengan doa yang belum pernah aku ajarkan?!”. Akan tetapi Nabi SAW justru memujinya dan memberinya hadiah.
2. Hadits Abdullah bin Mas’ud
وَعَنِ أَبِنِ مَسْعُوْدٍ رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: اِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاَحْسِنُوْا الصَّلاَةَ عَلَيْهِ فَاِنَّكُمْ لاَتَدْرُوْنَ  لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ فَقَالُوْا لَهُ : فَعَلِّمْنَا, قَالَ: اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ اِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُوْلِ الرَّحْمَةِ , الَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا يَغْبِطُهُ بِهِ اْلاَوَّلُوْنَ وَاْلاَخِرُوْنَ.رواه ابن ماجه
“Abdullah bin Mas’ud berkata: “Apabila kalian bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka buatlah redaksi shalawat yang bagus kepada beliau, siapa tahu barangkali shalawat kalian itu diberitahukan kepada beliau.” Mereka bertanya: “Ajari kami cara shalawat yang bagus kepada beliau.” Beliau menjawab: “Katakan, ya Allah jadikanlah segala shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada sayyid para rasul, pemimpin orangorang yang bertakwa, pamungkas para nabi, yaitu Muhammad hamba dan rasul-Mu, pemimpin dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau mcujam terpuji yang menjadi harapan orang­orang terdahulu dan orang-orang terkemudian.” Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Ibn Majah (906), Abdurrazzaq (3109), Abu Ya’la (5267), al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (9/115) dan Ismail al-Qadhi dalam Fadhl al-Shalat (hal. 59). Hadits ini juga disebutkan oleh Ibn al-Qayyim -ideolog kedua faham Wahhabi- dalam kitabnya Jala’ al-Afham (hal. 36 dan hal 72).
3. Hadits Ali bin Abi Thalib
عَنْ سَلاَمَةَ الْكِنْدِيِّ قَالَ: كَانَ عَلِيٌّ  رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ يُعَلّمُ النَّاسَ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُوْلُ : اَللَّهُمَّ دَاحِىَ الْمَدْحُوَّاتِ, وَبَارِئَ الْمَسْمُوْكَاتِ, وَجَبَّارَ الْقُلُوْبِ عَلَى فِطْرَتِهَا شَقِيِّهَا وَسَعِيْدِ هَا,اجْعَلْ شَرَائِفَ صَلَوَاتِكَ  وَنَوَاميَ بَرَكَاتِكَ وَرَأْفَةَ تَحَنُّنِكَ , عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِ كَ وَرَسُوْلِكَ, الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالْمُعْلِنِ الْحَقَّ  بِالْحَقِّ وَالدَّامِغِ لِجَيْشْاتِ اْلاَبَاطيِْ كَمَا حُمِّلَ ,فَاضْطَلَعَ بِأَمْرِكَ بِطَاعَتِكَ ,مُسْتَوْفِزًا فِى مَرْضَاتِكَ,بَغَيْرِ نَكْلٍ فِى قَدَمٍ وَلاَوَهْيٍ فِى عَزْمٍ ,وَاعِيًا لِوَحْيِكَ ,حَافِظًا لِعَهْدِ كَ ,مَاضِيًّا عَلَى نَفَاذِ  أَمْرِكَ ,حَتَّى أَوْرَ ى قَبَسًا لِقَابِسٍ , آلا ءَ اللهِ تَصِلُ بِهِ أَسْبَابَهُ ,بِهِ هُدِيَتِ اْلقُلُوْبُ بَعْدَ حَوْضاتِ الْفِتَنِ وَاْلاِثْمِ ,وَأَبْهَجَ مُوْ ضِحَاتِ اْلاَعْلاَمِ وَنَائِرَاتِ اْلاَحْكاَمِ وَمُنِيْرَاتِ اْلاِسْلاَمِ,فَهُوَ أَمِيْنُكَ الْمَأْمُوْنُ وَخَازِنُ عِلْمِكَ الْمَخْزُوْنِ وَشَهِيْدُكَ يَوْمَ الدِّيْنِ وَبَعِيْثُكَ نِعْمَةً وَرَسُوْلُكَ بِالْحَقِّ رَحْمَةً.َ اَللَّهُمَّ افْسَحْ لَهُ فِى عَدْنِكَ وَاجْزِهِ مُضَا عَفَاتِ الْخَيْرِ مِنْ فَضْلِكَ لَهُ مُهَنّئَاتٍ غَيْرَ مُكَدَّرَاتٍ مِنْ فَوْزِ ثَوَابِكَ الْمَحْلٌوْلِ وَجَزِيْلِ عَطَائِكَ الْمَعْلُوْلِ . اَللَّهُمَّ أَعْلِ عَلَى بِنَاءِ النَّاسِّ  بِنَاءَهُ وَأَكْرِمْ  مَثْوَاهُ لَدَيْكَ وَنُزُلَهُ وَأَتْمِمْ لَهُ نُوْرَهُ وَاجْزِهِ مِنِ ابْتِعَاثِكَ لَهُ مَقْبُوْلَ الشَّهَادَةِ وَمَرْضِيَّ اْلمَقَالةِ ذَا مَنْطِقٍ عَدْلٍ وَخُطَّةٍ فَصْلٍ وَبُرْهَانٍ عَظِيْمٍ   
“ Salamah al Kindi berkata,” Ali bin Abi Thalib r.a mengajarkan kami cara vershalawat kepada Nabi SAW  dengan berkata:” Ya Alloh, pencipta bumi yang menghampar, pencipta langit yang tingi, dan penuntun hati yang celaka dan yang bahagia pada ketetapanya, jadikanlah shalawat –Mu yang mulia, berkah-Mu yang tidak terbatas dan kasih saying-Mu yang lebut pada Muhammad hamba dan utusan-Mu, pembuka segala hal yang tertutup, pamungkas yang terdahulu, penolong agama yang benar dengan kebenaran,dan penkluk bala tentara kebatilan seperti yang dibebankan padanya, sehingga ia bangkit membawa perintah-Mu dengan tunduk kepada-Mu, siap menjalankan ridha-Mu, tanpa gentar dalam semangat dan tanpa kelemahan dalam kemauan, sang penjaga wahyu-Mu, pemelihara janji-Mu, dan pelaksana perintah-Mu sehingga ia nyalakan cahaya kebenaran pada yang mencarinya, jalan – jalan nikmat Alloh terus mengalir pada ahlinya dengan Muhammad hati yang tersesat memperoleh petunjuk setelah menyelami kekufuran dan kemaksiatan,  ia ( Muhammad ) telah memperindah rambu – rambu yang terang, hukum – hukum yang bercahaya, dan cahaya – cahaya  Islam yang menerangi, dialah ( Muhammad )orang yang jujur yang dipercayai oleh-Mu dan penyimpan ilmu-Mu yang tersembunyi, saksi-Mu di hari kiamat, utusan-Mu yang membawa nikmat, rasul-Mu yang membawa rahmat dengan kebenaran. Ya Alloh, luaskanlah surga-Mu baginya, balaslah dengan kebaikan yang berlipat ganda dari anugerah-Mu baginya, yaitu kelipatan yang mudah dan bersih, dari pahala-Mu yang dpat diraih dan anugerah-Mu yang agung dan tidak pernah terputus . Ya Alloh, berilah ia derajat tertinggi diantara manusia, muliakanlah tempat tinggal dan jamuannya di surga-Mu, sempurnakanlah cahayanya, balaslah jasanya sebagai utusan-Mu dengan kesaksian yang diterima, ucapan yang diridhai, pemilik ucapan yang lurus, jalan pemisah antara yang benar dan yang bathil dan hujjah yang kuat.
Hadits ini diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Ibn Jarir (224- 310 H/839-923 M) dalam Tahdzib alAtsar, Ibn Abi Ashim, Ya’qub bin Syaibah dalam Akhbar ‘Ali, Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (29520), al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath (9089) dan lain-lain. Hadits ini juga dikutip oleh ahli hadits sesudah mereka seperti al-Hafizh al- Qadhi Iyadh dalam al-Syifa, al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al- Badi’, Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Durr al-Mandhud, al-Hafizh al- Ghummari dalam Itqan alShan’ah dan lain-lain. Menunit al-Hafizh Ibn Katsir, redaksi shalawat ini popular dari Ali bin Abi Thalib.
4.  Hadits Abdullah bin Abbas
Lebih  dari itu, ada beberapa shahabat yang membuat shalawat tersendiri untuk Rasululloh SAW. Diantaranya adalah shahabat Abdullah bin Abbas seperti yang disebutkan pada hadits berikut ini:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّهُ كَانَ اِذَا صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ : اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍ الْكُبْرَى وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ الْعُلْيَا وَأَعْطِهِ سُؤَلَهُ  فِى اْلاَخِرَةِ  وَاْلاُوْلَى كَمَا اَتَيْتَ اِبْرَاهَيْمَ وَمُوْسَى
“ Ibn Abas r.a apabila membaca shalawat kepada Nabi SAW beliau berkata,” Ya Alloh kabulkanlah syafaat Muhammad yang agung, tinggikanlah derajatnya yang luhur, dan berilah permohonanya di dunia dan akhirat sebagaimana Engkau kabulkan permohonan Ibrahim dan Musa” Hadits ini diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dalam al-Musnad, Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (3104) dan Ismail al-Qadhi dalam Fahdl al-Shalat ‘Ala al-Nabiy (hal 52). Hadits ini juga disebutkan oleh Ibn al-Qayyim dalam Jala’ alAfham (hal 76). Al-Hafizh al- Sakhawi mengatakan dalam alQaul al-Badi’ (hal. 46), sanad hadits ini jayyid, ku at dan shahih.
5.  Shalawat al-Hasan al-Bashri
Al-Hasan al-Bashri, ulama generasi tabi’in terkemuka mengatakan: “Barangsiapa berkeinginan minum dengan gelas yang sempuma dari telaga Nabi maka bacalah:
“Ya Allah curahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sahabatnya, anak-anaknya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, keluarga istri-istrinya, para penolongnya, pendukungnya, kekasihnya dan umatnya dan kepada kami bersama mereka semuanya ya arhamarrahimin.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Qadhi Iyadh dalam al Syifa dan al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ (hal. 47).
6. Shalawat al-Imam al-Syafi’i
Abdullah bin al-Hakam berkata: “Aku bermimpi bertemu al-Imam al- Syafi’i setelah beliau meninggal. Aku bertanya: “Bagaimana perlakuan Allah kepadamu?” Beliau menjawab: “Allah mengasihiku dan mengampuniku. Lalu aku bertanya kepada Allah: “Dengan apa aku memperoleh derajat ini?” Lalu ada orang yang menjawab: “Dengan shalawat yang kamu tulis dalam kitab al-Risalah:
sholawat imam syafi'i
“Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Muhammad sejumlah ingatan orang-orang yang berdzikir kepada-Nya dan sejumlah kelalaian orang-orang yang lalai kepada-Nya”.
Abdullah bin al-Hakam berkata: “Pagi harinya aku lihat kitab al Risalah, ternyata shalawat di dalamnya sama dengan yang aku lihat dalam mimpiku.”
Kisah ini diriwayatkan oleh banyak ulama seperti Ibn al-Qayyim dalam Jala’ alAjham (hal. 230), al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ (haL 254) dan lain-lain.
Hadits-hadits di atas, dan ratusan riwayat lain dari ulama salaf dan ahli hadits yang tidak disebutkan di sini, dapat mengantarkan kita pada beberapa kesimpulan di antaranya:

Pertama, dalam Islam tidak ada ajaran yang mengajak meninggalkan shalawat-shalawat atau doa-doa yang disusun oleh para ulama dan auliya.
Seperti Dalail al-Khairat, Shalawat al-Fatih, Munjiyat, Nariyah, Thibbul Qulub, Badar dan lain-kin. Bahkan sebaliknya, ajaran Islam menganjurkan untuk mengamalkan shalawat-shalawat dan doa-doa yang disusun oleh para ulama dan auliya. Sejak generasi sahabat Nabi SAW kita dianjurkan untuk menyusun shalawat yang baik kepada Nabi SAW, sebagai tanda kecintaan dan ekspresi keta’zhiman kita kepada beliau. Mereka juga mengajarkan kita cara menyusun shalawat yang baik kepada Nabi SAW, seperti shalawat yang disusun oleh Sayidina Ali, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas dan ulama-ulama sesudahnya. Dari sekian banyak shalawat yang disusun oleh mereka, lahirlah karya-karya khusus dalam shalawat vang ditulis oleh para hafizh dari kalangan ahli hadits seperti Fadhl al-Shalat ‘aha. al-Nabi karya al-Imam Ismail bin Ishaq al- Qadhi, Jala’ al-Ajham karya Ibn al-Qayyim, al-Qahl al-Badi’ karya al-Hafizh al-Sakhawi dan ratusan karya shalawat lainnya.
Dengan demikian, ajakan Wahhabi agar meninggalkan shalawat dan doa yang disusun oleh para ulama dan auliya, termasuk bid’ah madzmumah yang berangkat dari paradigma Wahhabi yang anti bid’ad hasanah, serta bertentangan dengan Sunnah Rasul yang membolehkan dan memuji doa-doa yang disusun oleh para sahabatnya.
Kedua, di antara susunan shalawat yang baik adalah bacaan shalawat yang disertai dengan pujian kepada Nabi SAW.
 Seperti yang dicontohkan dalam shalawat Sayidina Ali bin Abi Thalib dengan menyertakan nama-nama dan sifat-sifat Nabi yang terpuji seperti, ‘alfatih lima ughliq, aldafi’ lijaysyat alabathil, al-khatim lima sabaq’ dan lain-lain. Oleh karena itu, Shalawat al-Fatih dan lain-lain yang mengandung pujian kepada Nabi SAW dengan kalimat ‘alfatih lima ughliq, al-khatim lima sabaq, thibbil qulub wa dawaiha’ dan lain-lain termasuk mengikuti Sunnah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diakui sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin oleh kaum Muslimin. Rasulullah sendiri memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin sebagaimana juga diakui oleh al-’Utsaimin (Ulama Wahabi) dalam Syarh al-’Aqidah al- Wasithiyyah (hal. 639).
Ketiga, hadits-hadits di atas, dapat mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa para sahabat telah terbiasa menyusun doa-doa dan bacaan shalawat kepada Nabi.
Hal ini kemudian diteladani oleh para ulama salaf yang saleh dari kalangan ahli hadits hingga dewasa ini. Lalu bagaimana dengan pernyataan Ustadz Mahrus Ali dalam bukunya Mantan Kiai NU Menggugat Sholaunt & Dzikir Syirik (hal. 91) berikut ini:
“Para sahabat yang fasih berbahasa Arab, lihai berbicara bahasa Arab dan ahli sastra bahasa Arab pun tidak mau membuat dan mereka-reka sendiri kalimat atau bacaan sholawat untuk Rasulullah Padahal bila mereka mau, tentunya mereka akan dengan mudah sekali membuat bacaan tersebut”

Tentu saja pernyataan Ustadz Mahrus Ali ini merupakan bentuk kebohongan dan ketidaktahuan. Hal ini menjadi bukti yang sangat kuat bahwa ia dan Ustadz Mu’ammal Hamidy serta guru-guru mereka seperti Ibn Baz, al-’Utsaimin, al-Albani dan Arrabi’, bukan pengikut ahli hadits dan bukan golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, karena kitab- kitab hadits seperti Kitab Standar Hadits yang Enam (al-Kutub al-Sittah) dan lain-lain telah meriwayatkan bahwa tidak sedikit di antara sahabat yang menyusun dan mereka-reka sendiri doa-doa yang mereka baca dalam ibadah shalat, haji dan lain-lain.
Di antara mereka ada pula yang mereka-reka sendiri bacaan shalawat kepada Nabi SAW seperti shalawat yang disusun oleh Sayidina Ali, Ibn Mas’ud dan Ibn Abbas yang kemudian diikuti oleh para ulama salaf yang saleh dan generasi penerus mereka hingga dewasa ini. Sebagian bacaan shalawat para sahabat dan ulama salaf yang saleh juga diriwayatkan oleh Ibn al-Qayyim-ideolog kedua ajaran Wahabi – dalam kitabnya Jala’ al-Afham.
(Tim Sarkub)http://www.sarkub.com/2013/kebolehan-aneka-redaksi-shalawat-nabi/#more-10502

Wednesday, April 3, 2013

Bimbel



YAYASAN TALI HATI INDONESIA ini menambahkan program unggulan untuk anak-anak yatim dan terlantar dalam bidang pendidikan berupa Bimbingan Belajar (Bimbel).