Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Bersama mari perbaiki generasi bangsa

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Dari hati bangun semangat untuk maju

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Dengan semangat saling berbagi manfaat besar kan kita raih

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

percaya diri berjalan membawa amana, kejujuran di hati

Yayasan Sosial Tali Hati Indonesia

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, April 25, 2013

Hukum Membid'ahkan atau mengkafirkan orang laing

Bahaya Takfir

kafirs3Musibah besar yang dapat memecah belah persatuan Islam dari dalam, yang akhir-akhir ini sering dilontarkan oleh kelompok radikal wahabi  yang memproklamirkan diri sebagai pengikut Salafi dan yang sefaham dengannya, seperti MTA, LDII dan lain-lain adalah ucapan seperti “ahli bid’ah, musyrik atau kafir kepada muslim lain hanya karena keyakinan dan manhaj (metodelogi pemikiran) yang berbeda.
Kita dapat saksikan nyata, perilaku sebagian dari mereka yang melakukan hujatan dan serangan kejam kepada mayoritas ulama sunni dengan mengklaim bahwa pelaku tahlilan, tawassul, tabarrukan dan lain-lain semua telah kufur, syirik, sesat serta telah keluar dari agama Islam.

Lagi-lagi karena faktor jahil dan salah kaprah memahami sesuatu yang menjadi sebab musabbab seorang muslim keluar dari agama, mereka dengan ekstrim dan tanpa beban menghujat muslim lain yang tidak sejalan dengan ideologi mereka dengan kata-kata kufur atau syirik. Konsekwensi dari ucapan tersebut, pertanyaan besar mengemuka, berapa jumlah muslim di muka bumi ini yang terhapus dari daftar umat Islam menurut mereka?
Fenomena seperti ini, memang biasa terjadi di daerah-daerah tertentu yang multi aliran dan multi pola pikir pemahaman agama yang tidak seragam. Namun karena faktor husnuzhon (berbaik sangka), kami berkomentar, mungkin maksud mereka baik, bertujuan amar ma’ruf dan nahi munkar, akan tetapi bagaimanapun tujuan baik tersebut dalam pelaksanaannya harus dibarengi dengan hikmah dan mauizhah hasanah. Dan apabila keadaan menuntut harus berdebat (mujaddalah), maka harus berdebat dengan baik, sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
Jika anda mengajak seseorang muslim untuk melaksanakan shalat, menjalankan kewajiban agama, menjauhi larangan, menyebar dakwah Islam, meramaikan masjid, membangun tempat-tempat pengajian atau hal-hal lain yang anda yakini benar, sementara yang anda ajak mempunvai keyakinan berbeda dengan anda, sedangkan hukum masalah tersebut masih diperselisihkan ulama, kemudian orang tersebut tidak mau mengikuti ajakan anda, lalu anda tuduh dia kufur lantaran hanya berbeda dengan pandangan anda, maka anda telah melakukan kesalahan besar dan melakukan sesuatu hal yang sangat dilarang oleh Allah.
Dengan dalih pemurnian agama atau tauhid dan mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah pun sering diteriakkan, namun slogan yang kelihatannya bagus di luar tersebut pada realitanya Selalu dibarengi dengan sikap lancang yakni mengklaim ketetapan hukum syariat yang sudah dicetuskan oleh para mujtahid dan para ulama terdahulu tidak sesuai dengan isi Al-Qur’an dan hadits. Menurut mereka juga, melegalkan qiyas (analogi hukum dalam Islam) dan ijma” (konsensus ulama) dalam jajaran dasar-dasar hukum Islam (ushul al-ahkam) adalah sesat dan batil, pengikut madzhab Asy’ariyyah kufur, pengamal tarekat sufi kufur dan kata-kata ekstrim lain.

Betapa mereka telah melakukan kesalahan besar dengan menuduh ulama-ulama Islam Ahlussunnah yang waktu dan umurnya dihabiskan untuk membela agama Allah dengan tuduhan keji seperti itu. Berapa jumlah ulama yang mereka anggap sesat dalam pandangan mereka? Lalu berapa pengamal tarekat sufi yang harus diusir dari ranah Islam? Berapa juta pengikut madzhab yang harus mereka singkirkan dari daftar orang-orang Islam? Naudzubillah.

Di tempat lain, saat sebagian dari saudara muslim yang kebetulan tidak mempunyai ilmu agama cukup telah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, seperti melakukan sesaji di tempat-tempat yang dikeramatkan, mengikuti sekatenan, ziarah makam dengan membawa beraneka ragam makanan, percaya dengan hal-hal yang berbau klenik dan lain-lain, lalu para penda’wah salafi pun juga dengan cepat-cepat dan tanpa beban sama sekali menuduh mereka syirik, kufur, sesat dan lain-lain. Dengan tanpa huznuzhon dan ta’wil sama sekali, mereka telah mengelilarkan orang-orang muslim tersebut dari daftar muslimin ke dalam daftar orang kafir. Hal ini, juga termasuk ekstrimisme dalam berda’wah. Rasulullah bersabda:
“Ketika seseorang berkata kepada saudaranya “wahai kafir”, maka ucapan (kufur) tersebut kembali pada salah satu di antara keduanya” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah) Imam Ahmad Masyhur al-Haddad berkata, “Telah terjadi ijma’ tentang tidak diperbolehkannya mengkafirkan ahli kiblat kecuali karena beri’tikad tidak adanya sang pencipta yang kuasa jalla wa’ ala,  atau syirik yang telah nyata yang tidak bisa dita’wil (pengalihan maksud) atau ingkar kenabian, atau ingkar syari’at yang diketahui dengan pasti {bi adh-dharurat), atau ingkar syariat mutawatir atau mujma’ ‘alaih (ijma1) yang pasti”
Imam as-Syaukani menjelasan, “Ketahuilah, sesungguhnya menghukumi seorang muslim dengan menganggap keluar dari agama Islam dan masuk agama kufur, tidak layak dilakukan oleh seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir kecuali dengan dalil yang lebih terang dari pada matahari siang”
Ibnu Taimiyyah, sebagaimana dalam Thariq al-Wushul karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, berkata, ‘Jika ucapan kufur diucapkan, maka tidak harus setiap pengucapnya dihukumi kufur karena (mungkin) dia tidak tahu atau (ucapannya) bisa dita’wil”
Pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab dalam ar-Rasail asy- Syakhshiyyah menolak segala tuduhan yang menyebutkan bahwa beliau mengatakan kufur kepada orang yang bertawassul, mengkufurkan al-Bushiri (penulis al-Burdah) dan mengkufurkan orang yang bersumpah atas nama selain Allah.
Ibnu Baz, Mufti Kerajaan Arab Saudi (ulama Wahhabi) melarang berda’wah dengan cara menghina sesama pendakwah. Begitu Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Ibnu Utsaimin), salah satu ulama Wahhabiyyah, sebagaimana diceritakan oleh Muhammad Thuyan, pernah berpesan kepada mahasiswa kuliah fakultas Syariat, Ushuluddin, Emu Arabi dan Sosial di Qashim untuk memuliakan ulama dan guru-guru serta melarang keras mengkufurkan para hakim dan para ulama. Tapi semua itu hanyalah omong kosong yang tidak diterapkan olehnya dan pengikut wahabiyah umumnya.
Dalam hal ekstrimisme takfir, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mempunyai karya bagus yang berkaitan dengan hal tersebut, yaitu at- Tahdzir min al-Mujazafah bi at-Takfir serta al-Ghuluw (makalah dialog Nasional ke-2 di Makkah Mukarramah). Kedua kitab tersebut layak dibaca bagi yang mengharapkan sesuatu yang haq.
(Sumber: Dikutip  dari buku Benteng Ahlussunnah karya Nur Hidayat Muhammad)

Semua Aneka Ragam Redaksi Sholawat itu Boleh

Dalam amaliah sehari-hari mayoritas kaum Muslimin, yang sangat mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW dengan penuh ta’zhim, telah dikenal sekian banyak redaksi shalawat kepada Nabi SAW, seperti Shalawat Munjiyat, Shalawat Nariyah, Shalawat Fatih, Shalawat Thibbul Qulub dan lain-lain. Kebanyakan redaksi shalawat-shalawat tersebut tidak disusun oleh Nabi sendiri, tapi disusun oleh para ulama dan auliya terkemuka yang tidak diragukan dalam keilmuan dan ketakwaannya.

Pertanyaan yang sering diajukan oleh kaum Wahhabi seperti Ibn Baz, al-Utsaimin, al-Albani, Mahrus Ali, dan lain-lain adalah: Bolehkah mengamalkan shalawat yang tidak disusun oleh Nabi SAW, bahkan tidak dikenal pada masa beliau?. Bahkan terakhir, tayangan Khazanah Trans 7 pada hari Jum’at 12 April 2013 menayangkan hal tersebut dengan membid’ahkan amaliah sholawat yang dikarang oleh ulama.
Sedangkan mengenai bentuk redaksinya, shalawat itu ada dua macam, yaitu Shalawat Ma’tsur dan Shalawat Ghoiru Ma’tsur. Shalawat Ma’tsur adalah shalawat yang dibuat oleh Rasululloh SAW sendirir, baik kalimat, cara membaca, waktu maupun fadhilahnya.
Adapun Shalawat yang masuk kategori Ghoiru Ma’tsur, adalah seperti shalawat yang disusun oleh Imam Al Ghazali, shalawat Quthbul Aqthab yang disusun oleh Sayid Abdullah bin Alawi Al-Hadad, Shalawat Nariyah, Shalawat Munjiyat, Shalawat Mukhathab dan lain – lain.
Mayoritas kaum “muslimin, berpandangan bahwa mengamalkan shalawat-shalawat yang disusun oleh para ulama dan auliya seperti Shalawat Munjiyat, Shalawat Nariyah, Shalawat al-Fatih, Shalawat Thibbul Qulub dan lain-lain adalah dibolehkan dan disunnahkan sesuai dengan paradigma umum yang mengakui adanya bid’ah hasanah dalam agama. Terdapat sekian banyak dalil -selain dalil-dalil bid’ah hasanah sebelumnya- yang menjadi dasar kebolehan membaca doa-doa dan shalawat-shalawat yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Di antara dalil- dalil tersebut akan kami sebutkan satu persatu di bawah.
1. Hadits Anas bin Malik RA.
hadits anas
“Anas bin Malik berkata: “Suatu ketika Rasulullah SAW  bertemu dengan laki-laki a’rabi (pedalaman) yang sedang berdoa dalam shalatnya dan berkata: “Wahai Tuhan yang tidak terlihat oleh mata, tidak dipengaruhi oleh keraguan, tidak dapat diterangjkan oleh para pembicara, tidak diubah oleh perjalanan waktu dan tidak oleh malapetaka; Tukan yang mengetahui timbangan gunung, takaran lautan, jumlah tetesan air luijan, jumlah daun-daun pepohonan, jumlah segala apa yang ada di bawah gelaapnya malam dan terangnya siang, satu langit dan satu bumi tidak menghalanginya ke langit dan bumi yang lain, lautan tidak dapat menyembunyikan dasarnya, gunung tidak dapat menyembunyikan isinya, jadikanlah umur terbaikku akhimya, amal terbaikku pamungkasnya dan hari terbaikku hari aku bertemu dengan-Mu.”
Setelah laki-laki a’rabi itu selesai berdoa, Nabi SAW memanggilnya dan memberinya hadiah berupa emas dan beliau berkata kepada laki-laki itu: “Aku memberimu emas itu karena pujianmu yang bagus kepada Allah ‘azza wa jalla”.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al- Ausath (9447) dengan sanad yang jayyid.
Hadits ini menunjukkan bolehnya berdoa dengan doa yang belum pernah diajarkan oleh Nabi Dalam hadits tersebut, Nabi tidak menegur si a’rabi yang berdoa dengan susunannya sendiri, juga tidak berkata kepadanya: “Mengapa kamu berdoa dengan doa yang belum pernah aku ajarkan?!”. Akan tetapi Nabi SAW justru memujinya dan memberinya hadiah.
2. Hadits Abdullah bin Mas’ud
وَعَنِ أَبِنِ مَسْعُوْدٍ رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: اِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاَحْسِنُوْا الصَّلاَةَ عَلَيْهِ فَاِنَّكُمْ لاَتَدْرُوْنَ  لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ فَقَالُوْا لَهُ : فَعَلِّمْنَا, قَالَ: اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ اِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُوْلِ الرَّحْمَةِ , الَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا يَغْبِطُهُ بِهِ اْلاَوَّلُوْنَ وَاْلاَخِرُوْنَ.رواه ابن ماجه
“Abdullah bin Mas’ud berkata: “Apabila kalian bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka buatlah redaksi shalawat yang bagus kepada beliau, siapa tahu barangkali shalawat kalian itu diberitahukan kepada beliau.” Mereka bertanya: “Ajari kami cara shalawat yang bagus kepada beliau.” Beliau menjawab: “Katakan, ya Allah jadikanlah segala shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada sayyid para rasul, pemimpin orangorang yang bertakwa, pamungkas para nabi, yaitu Muhammad hamba dan rasul-Mu, pemimpin dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau mcujam terpuji yang menjadi harapan orang­orang terdahulu dan orang-orang terkemudian.” Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Ibn Majah (906), Abdurrazzaq (3109), Abu Ya’la (5267), al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (9/115) dan Ismail al-Qadhi dalam Fadhl al-Shalat (hal. 59). Hadits ini juga disebutkan oleh Ibn al-Qayyim -ideolog kedua faham Wahhabi- dalam kitabnya Jala’ al-Afham (hal. 36 dan hal 72).
3. Hadits Ali bin Abi Thalib
عَنْ سَلاَمَةَ الْكِنْدِيِّ قَالَ: كَانَ عَلِيٌّ  رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ يُعَلّمُ النَّاسَ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَقُوْلُ : اَللَّهُمَّ دَاحِىَ الْمَدْحُوَّاتِ, وَبَارِئَ الْمَسْمُوْكَاتِ, وَجَبَّارَ الْقُلُوْبِ عَلَى فِطْرَتِهَا شَقِيِّهَا وَسَعِيْدِ هَا,اجْعَلْ شَرَائِفَ صَلَوَاتِكَ  وَنَوَاميَ بَرَكَاتِكَ وَرَأْفَةَ تَحَنُّنِكَ , عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِ كَ وَرَسُوْلِكَ, الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالْمُعْلِنِ الْحَقَّ  بِالْحَقِّ وَالدَّامِغِ لِجَيْشْاتِ اْلاَبَاطيِْ كَمَا حُمِّلَ ,فَاضْطَلَعَ بِأَمْرِكَ بِطَاعَتِكَ ,مُسْتَوْفِزًا فِى مَرْضَاتِكَ,بَغَيْرِ نَكْلٍ فِى قَدَمٍ وَلاَوَهْيٍ فِى عَزْمٍ ,وَاعِيًا لِوَحْيِكَ ,حَافِظًا لِعَهْدِ كَ ,مَاضِيًّا عَلَى نَفَاذِ  أَمْرِكَ ,حَتَّى أَوْرَ ى قَبَسًا لِقَابِسٍ , آلا ءَ اللهِ تَصِلُ بِهِ أَسْبَابَهُ ,بِهِ هُدِيَتِ اْلقُلُوْبُ بَعْدَ حَوْضاتِ الْفِتَنِ وَاْلاِثْمِ ,وَأَبْهَجَ مُوْ ضِحَاتِ اْلاَعْلاَمِ وَنَائِرَاتِ اْلاَحْكاَمِ وَمُنِيْرَاتِ اْلاِسْلاَمِ,فَهُوَ أَمِيْنُكَ الْمَأْمُوْنُ وَخَازِنُ عِلْمِكَ الْمَخْزُوْنِ وَشَهِيْدُكَ يَوْمَ الدِّيْنِ وَبَعِيْثُكَ نِعْمَةً وَرَسُوْلُكَ بِالْحَقِّ رَحْمَةً.َ اَللَّهُمَّ افْسَحْ لَهُ فِى عَدْنِكَ وَاجْزِهِ مُضَا عَفَاتِ الْخَيْرِ مِنْ فَضْلِكَ لَهُ مُهَنّئَاتٍ غَيْرَ مُكَدَّرَاتٍ مِنْ فَوْزِ ثَوَابِكَ الْمَحْلٌوْلِ وَجَزِيْلِ عَطَائِكَ الْمَعْلُوْلِ . اَللَّهُمَّ أَعْلِ عَلَى بِنَاءِ النَّاسِّ  بِنَاءَهُ وَأَكْرِمْ  مَثْوَاهُ لَدَيْكَ وَنُزُلَهُ وَأَتْمِمْ لَهُ نُوْرَهُ وَاجْزِهِ مِنِ ابْتِعَاثِكَ لَهُ مَقْبُوْلَ الشَّهَادَةِ وَمَرْضِيَّ اْلمَقَالةِ ذَا مَنْطِقٍ عَدْلٍ وَخُطَّةٍ فَصْلٍ وَبُرْهَانٍ عَظِيْمٍ   
“ Salamah al Kindi berkata,” Ali bin Abi Thalib r.a mengajarkan kami cara vershalawat kepada Nabi SAW  dengan berkata:” Ya Alloh, pencipta bumi yang menghampar, pencipta langit yang tingi, dan penuntun hati yang celaka dan yang bahagia pada ketetapanya, jadikanlah shalawat –Mu yang mulia, berkah-Mu yang tidak terbatas dan kasih saying-Mu yang lebut pada Muhammad hamba dan utusan-Mu, pembuka segala hal yang tertutup, pamungkas yang terdahulu, penolong agama yang benar dengan kebenaran,dan penkluk bala tentara kebatilan seperti yang dibebankan padanya, sehingga ia bangkit membawa perintah-Mu dengan tunduk kepada-Mu, siap menjalankan ridha-Mu, tanpa gentar dalam semangat dan tanpa kelemahan dalam kemauan, sang penjaga wahyu-Mu, pemelihara janji-Mu, dan pelaksana perintah-Mu sehingga ia nyalakan cahaya kebenaran pada yang mencarinya, jalan – jalan nikmat Alloh terus mengalir pada ahlinya dengan Muhammad hati yang tersesat memperoleh petunjuk setelah menyelami kekufuran dan kemaksiatan,  ia ( Muhammad ) telah memperindah rambu – rambu yang terang, hukum – hukum yang bercahaya, dan cahaya – cahaya  Islam yang menerangi, dialah ( Muhammad )orang yang jujur yang dipercayai oleh-Mu dan penyimpan ilmu-Mu yang tersembunyi, saksi-Mu di hari kiamat, utusan-Mu yang membawa nikmat, rasul-Mu yang membawa rahmat dengan kebenaran. Ya Alloh, luaskanlah surga-Mu baginya, balaslah dengan kebaikan yang berlipat ganda dari anugerah-Mu baginya, yaitu kelipatan yang mudah dan bersih, dari pahala-Mu yang dpat diraih dan anugerah-Mu yang agung dan tidak pernah terputus . Ya Alloh, berilah ia derajat tertinggi diantara manusia, muliakanlah tempat tinggal dan jamuannya di surga-Mu, sempurnakanlah cahayanya, balaslah jasanya sebagai utusan-Mu dengan kesaksian yang diterima, ucapan yang diridhai, pemilik ucapan yang lurus, jalan pemisah antara yang benar dan yang bathil dan hujjah yang kuat.
Hadits ini diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Ibn Jarir (224- 310 H/839-923 M) dalam Tahdzib alAtsar, Ibn Abi Ashim, Ya’qub bin Syaibah dalam Akhbar ‘Ali, Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (29520), al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath (9089) dan lain-lain. Hadits ini juga dikutip oleh ahli hadits sesudah mereka seperti al-Hafizh al- Qadhi Iyadh dalam al-Syifa, al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al- Badi’, Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Durr al-Mandhud, al-Hafizh al- Ghummari dalam Itqan alShan’ah dan lain-lain. Menunit al-Hafizh Ibn Katsir, redaksi shalawat ini popular dari Ali bin Abi Thalib.
4.  Hadits Abdullah bin Abbas
Lebih  dari itu, ada beberapa shahabat yang membuat shalawat tersendiri untuk Rasululloh SAW. Diantaranya adalah shahabat Abdullah bin Abbas seperti yang disebutkan pada hadits berikut ini:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّهُ كَانَ اِذَا صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ : اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍ الْكُبْرَى وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ الْعُلْيَا وَأَعْطِهِ سُؤَلَهُ  فِى اْلاَخِرَةِ  وَاْلاُوْلَى كَمَا اَتَيْتَ اِبْرَاهَيْمَ وَمُوْسَى
“ Ibn Abas r.a apabila membaca shalawat kepada Nabi SAW beliau berkata,” Ya Alloh kabulkanlah syafaat Muhammad yang agung, tinggikanlah derajatnya yang luhur, dan berilah permohonanya di dunia dan akhirat sebagaimana Engkau kabulkan permohonan Ibrahim dan Musa” Hadits ini diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dalam al-Musnad, Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (3104) dan Ismail al-Qadhi dalam Fahdl al-Shalat ‘Ala al-Nabiy (hal 52). Hadits ini juga disebutkan oleh Ibn al-Qayyim dalam Jala’ alAfham (hal 76). Al-Hafizh al- Sakhawi mengatakan dalam alQaul al-Badi’ (hal. 46), sanad hadits ini jayyid, ku at dan shahih.
5.  Shalawat al-Hasan al-Bashri
Al-Hasan al-Bashri, ulama generasi tabi’in terkemuka mengatakan: “Barangsiapa berkeinginan minum dengan gelas yang sempuma dari telaga Nabi maka bacalah:
“Ya Allah curahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sahabatnya, anak-anaknya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, keluarga istri-istrinya, para penolongnya, pendukungnya, kekasihnya dan umatnya dan kepada kami bersama mereka semuanya ya arhamarrahimin.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Qadhi Iyadh dalam al Syifa dan al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ (hal. 47).
6. Shalawat al-Imam al-Syafi’i
Abdullah bin al-Hakam berkata: “Aku bermimpi bertemu al-Imam al- Syafi’i setelah beliau meninggal. Aku bertanya: “Bagaimana perlakuan Allah kepadamu?” Beliau menjawab: “Allah mengasihiku dan mengampuniku. Lalu aku bertanya kepada Allah: “Dengan apa aku memperoleh derajat ini?” Lalu ada orang yang menjawab: “Dengan shalawat yang kamu tulis dalam kitab al-Risalah:
sholawat imam syafi'i
“Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Muhammad sejumlah ingatan orang-orang yang berdzikir kepada-Nya dan sejumlah kelalaian orang-orang yang lalai kepada-Nya”.
Abdullah bin al-Hakam berkata: “Pagi harinya aku lihat kitab al Risalah, ternyata shalawat di dalamnya sama dengan yang aku lihat dalam mimpiku.”
Kisah ini diriwayatkan oleh banyak ulama seperti Ibn al-Qayyim dalam Jala’ alAjham (hal. 230), al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ (haL 254) dan lain-lain.
Hadits-hadits di atas, dan ratusan riwayat lain dari ulama salaf dan ahli hadits yang tidak disebutkan di sini, dapat mengantarkan kita pada beberapa kesimpulan di antaranya:

Pertama, dalam Islam tidak ada ajaran yang mengajak meninggalkan shalawat-shalawat atau doa-doa yang disusun oleh para ulama dan auliya.
Seperti Dalail al-Khairat, Shalawat al-Fatih, Munjiyat, Nariyah, Thibbul Qulub, Badar dan lain-kin. Bahkan sebaliknya, ajaran Islam menganjurkan untuk mengamalkan shalawat-shalawat dan doa-doa yang disusun oleh para ulama dan auliya. Sejak generasi sahabat Nabi SAW kita dianjurkan untuk menyusun shalawat yang baik kepada Nabi SAW, sebagai tanda kecintaan dan ekspresi keta’zhiman kita kepada beliau. Mereka juga mengajarkan kita cara menyusun shalawat yang baik kepada Nabi SAW, seperti shalawat yang disusun oleh Sayidina Ali, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas dan ulama-ulama sesudahnya. Dari sekian banyak shalawat yang disusun oleh mereka, lahirlah karya-karya khusus dalam shalawat vang ditulis oleh para hafizh dari kalangan ahli hadits seperti Fadhl al-Shalat ‘aha. al-Nabi karya al-Imam Ismail bin Ishaq al- Qadhi, Jala’ al-Ajham karya Ibn al-Qayyim, al-Qahl al-Badi’ karya al-Hafizh al-Sakhawi dan ratusan karya shalawat lainnya.
Dengan demikian, ajakan Wahhabi agar meninggalkan shalawat dan doa yang disusun oleh para ulama dan auliya, termasuk bid’ah madzmumah yang berangkat dari paradigma Wahhabi yang anti bid’ad hasanah, serta bertentangan dengan Sunnah Rasul yang membolehkan dan memuji doa-doa yang disusun oleh para sahabatnya.
Kedua, di antara susunan shalawat yang baik adalah bacaan shalawat yang disertai dengan pujian kepada Nabi SAW.
 Seperti yang dicontohkan dalam shalawat Sayidina Ali bin Abi Thalib dengan menyertakan nama-nama dan sifat-sifat Nabi yang terpuji seperti, ‘alfatih lima ughliq, aldafi’ lijaysyat alabathil, al-khatim lima sabaq’ dan lain-lain. Oleh karena itu, Shalawat al-Fatih dan lain-lain yang mengandung pujian kepada Nabi SAW dengan kalimat ‘alfatih lima ughliq, al-khatim lima sabaq, thibbil qulub wa dawaiha’ dan lain-lain termasuk mengikuti Sunnah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diakui sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin oleh kaum Muslimin. Rasulullah sendiri memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin sebagaimana juga diakui oleh al-’Utsaimin (Ulama Wahabi) dalam Syarh al-’Aqidah al- Wasithiyyah (hal. 639).
Ketiga, hadits-hadits di atas, dapat mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa para sahabat telah terbiasa menyusun doa-doa dan bacaan shalawat kepada Nabi.
Hal ini kemudian diteladani oleh para ulama salaf yang saleh dari kalangan ahli hadits hingga dewasa ini. Lalu bagaimana dengan pernyataan Ustadz Mahrus Ali dalam bukunya Mantan Kiai NU Menggugat Sholaunt & Dzikir Syirik (hal. 91) berikut ini:
“Para sahabat yang fasih berbahasa Arab, lihai berbicara bahasa Arab dan ahli sastra bahasa Arab pun tidak mau membuat dan mereka-reka sendiri kalimat atau bacaan sholawat untuk Rasulullah Padahal bila mereka mau, tentunya mereka akan dengan mudah sekali membuat bacaan tersebut”

Tentu saja pernyataan Ustadz Mahrus Ali ini merupakan bentuk kebohongan dan ketidaktahuan. Hal ini menjadi bukti yang sangat kuat bahwa ia dan Ustadz Mu’ammal Hamidy serta guru-guru mereka seperti Ibn Baz, al-’Utsaimin, al-Albani dan Arrabi’, bukan pengikut ahli hadits dan bukan golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, karena kitab- kitab hadits seperti Kitab Standar Hadits yang Enam (al-Kutub al-Sittah) dan lain-lain telah meriwayatkan bahwa tidak sedikit di antara sahabat yang menyusun dan mereka-reka sendiri doa-doa yang mereka baca dalam ibadah shalat, haji dan lain-lain.
Di antara mereka ada pula yang mereka-reka sendiri bacaan shalawat kepada Nabi SAW seperti shalawat yang disusun oleh Sayidina Ali, Ibn Mas’ud dan Ibn Abbas yang kemudian diikuti oleh para ulama salaf yang saleh dan generasi penerus mereka hingga dewasa ini. Sebagian bacaan shalawat para sahabat dan ulama salaf yang saleh juga diriwayatkan oleh Ibn al-Qayyim-ideolog kedua ajaran Wahabi – dalam kitabnya Jala’ al-Afham.
(Tim Sarkub)http://www.sarkub.com/2013/kebolehan-aneka-redaksi-shalawat-nabi/#more-10502

Wednesday, April 3, 2013

Bimbel



YAYASAN TALI HATI INDONESIA ini menambahkan program unggulan untuk anak-anak yatim dan terlantar dalam bidang pendidikan berupa Bimbingan Belajar (Bimbel).

Melihat watak melalui golongan darah


golongan darah O, berikut ini penjelasannya :
- Biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup dan menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut.
- Dapat menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).
- Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
- Mereka biasanya di cintai oleh semua orang, "loved by all". Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
- Sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.
- Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain
- Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati

golongan darah A, berikut ini penjelasannya :
- Berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool.
- Karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala.
- Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang, sungguh-sungguh dan konsisten.
- Berusaha membuat diri mereka se wajar dan ideal mungkin.
- Kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.
- Mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya.
- Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber´temperamen´ sama.


golongan darah B, berikut ini penjelasannya :
- Cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
- Mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
- Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.
- Cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.
- Terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada didalam diri mereka.


golongan darah AB, berikut ini penjelasannya :
- Mempunyai perasaan yang sensitif, lembut.
- Penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.
- Keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.
- Cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian.
- Sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
- Mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Bentengi Diri Dari Ajaran Radikalisme



Berikut adalah penuturan kisah nyata oleh Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Solo:
Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA yang saya ketahui tentang Islam di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah. Meskipun banyak juga kelompok-kelompok Islam lain yang saya sebatas tahu tapi karena kondisi mereka yang tidak sebesar NU dan Muhammadiyah sehingga dari pemahaman saya pribadi terhadap mereka juga kurang mendalam.
Kemudian ketika mulai muncul isu terorisme di Indonesia saya mulai tahu bahwa banyak di luar sana umat Islam yang berpandangan sangat keras ketika menyikapi permasalahan yang terjadi di zaman sekarang ini. Terutama jika permasalahan tersebut berkaitan dengan dunia barat (AS dan sekutu), neo-liberalisme, dan Yahudi. Dari situ kemudian juga berdampak kepada permasalahan antarumat bergama.
Setelah hampir 3 tahun saya hidup di Solo untuk menempuh pendidikan tinggi di sana, saya mulai mengerti bagaimana kondisi real tentang gencarnya doktrinasi Radikalisme Islam dari mulai grassroot hingga tingkatan paling atas. Saya paham betul khususnya di kampus (negeri) bagaimana doktrik-doktrin radikal tersebut dimasukkan ke otak para mahasiswa lewat berbagai kegiatan keagamaan.
Yang terjadi apa? Kampus diindikasikan sebagai wadah pencetak teroris. Pada tahun 2010-2011 tercatat beberapa PTN di Indonesia mahasiswanya terbukti berhubungan dengan berbagai kelompok pembaharu yang mengatas namakan Islam akan tetapi dengan ideologinya mereka menginginkan untuk membentuk sebuah Negara Islam Indonesia (NII) dengan cara-cara yang sama sekali tidak pernah diajarkan dalam agama Islam.
Dari hal tersebut kemudian bisa dirasakan bahwa dampak yang muncul yakni anti-pati, larangan, dan kecaman oleh para orang tua mahasiswa—khususnya mahasiswa baru—terhadap segala organisasi kegamaan di kampus. Mereka khawatir jika anak-anaknya terjerumus ke dalam radikalisme agama.
Saya dengan pandangan ke-Indonesia-an mencoba menelusur lebih dalam tentang tanah air, bagaimana di Indonesia itu dikenal sangat berbudaya, apapun yang ada di Indonesia adalah produk budaya, bahkan masuknya Islam di nusantara juga tidak lepas dari nilai-nilai luhur budaya nusantara itu sendiri. Itulah mengapa saya pribadi beranggapan bahwa pentingnya menjaga tradisi dan budaya dan melawan segala bentuk radikalisme agama yang akan menganggap segala tradisi dan budaya itu adalah hal yang menyesatkan.
Di Kota Bengawan ini saya belajar mengenal kondisi lingkungan dan masyarakatnya. Rutin seminggu sekali di Solo digelar JAMURO (Jamaah Muji Rosul) yang tempatnya berpindah-pindah. Di Solo dan sekitarnya Jamuro menjadi semacam “perlawanan budaya” terhadap menjamurnya gerakan Islam radikal yang mengibarkan semangat anti aqidah dan amaliah warga Nahdliyyin—karena saya orang NU—dan juga menggerogoti budaya-budaya leluhur Jawa dengan dalil penyesatannya.
Solo memang daerah di mana berbagai macam kelompok Islam berkembang dengan suburnya. Selain menjadi basis Muhammadiyah, di daerah ini juga ada Pesantren Al-Mukmin Ngruki pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Ada juga Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) pimpinan Ahmad Sukino.
Sebagai bagian dari masyarakat asli Indonesia dan juga bagian dari NU yang memang anti-radikalisme saya sangat prihatin ketika ancaman oleh radikalisme Islam itu semakin gencar dilakukan. Khususnya ini menjadi ancaman bagi 4 pilar kehidupan kebangsaan Indonesia, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
KH Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU pernah menyampaikan bahwa gerakan-gerakan Islam radikal itu merupakan ancaman bagi kita semua. Dan Indonesia yang multikultur akan terus eksis jika NU sebagai payung kebhinnekaan bangsa tetap berdiri kokoh menjadi kekuatan sosial keagamaan dan kebudayaan.
Ini jelas hal yang butuh diperhatikan secara lebih untuk kemudian disikapi dengan tindakan yang sesuai norma-norma yang ada. radikalisme Islam bisa dikatakan sebagai salah satu musuh bangsa yang harus dilawan dan jangan dibiarkan berkembang dengan leluasa. Karena mereka jelas tidak mau menghargai kearifan lokal yang ada di Indonesia ini. Yang padahal nilai-nilai budaya dan kearifan lokal itu lah yang membuat nusantara menjadi bangsa yang disegani.
Segala upaya-upaya untuk menangkal radikalisme harus dilakukan, pemerintah selaku penyelenggara negara harus berperan aktif dalam hal ini. Membentengi diri dengan ilmu agama yang tidak asal-asalan harus juga diperhatikan, jangan asal mau menangkap ajaran-ajaran yang tidak jelas asal-usulnya.
Ahmad Rodif Hafidz
Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Solo
NU Online